Pedagang Pasar Gembrong Galur Galau Hadapi Penampungan Sementara

Baca Juga

Para pedagang Pasar Gembrong Lama, Galur
yang sedang galau menanti pembeli datang.
(Foto: Dade Fachri/TangerangNet.om) 



NET -  Salah satu perwakilan pedagang, Zulkarnaen mengatakan rencana renovasi Pasar Gembrong Lama, Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat, menjadi polemik dan membuat galau pedagang. Terutama oleh para pedagang yang menggantungkan nasib di pasar tersebut, dengan pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat yang hendak merenovasi.

Menurut pedagang, kendati telah disepakati tempat relokasi sementara di sepanjang jalan sekitar Masjid Nuraini atau Jalan Rawa Sawah II hingga Jalan Rawa Sawah III, masih ada persoalan tersisa lainnya. "Apakah cukup 380-an pedagang pindah ke sekitar jalan itu semua," ujar Zulkarnaen, saat di temui wartawan, Selasa (8/10), di pasat tersebut.

Pedagang telur itu, tak yakin kawasan sementara cukup ditempati ratusan pedagang. Sebab lapak yang telah disepakati seluas 1 X 1 meter persegi tiap pedagang. Akibatnya penjual seperti pedagang kosmetik, aksesoris dan lainnya, yang memiliki banyak barang dagangan dan tak cocok dijual di lapak sejenis kaki lima, diperkirakan tidak bisa berjualan di tempat relokasi.

Zulkarnaen mengungkapkan pihak Pemkot harus memikirkan solusi dari persoalan ini. Mengingat waktu renovasi tak sebentar, dan kios lama harus dikosongkan pedagang sesegera mungkin. Renovasi rencananya meliputi pembenahan atap, pembuatan saluran air, dan lain sebagainya.

Renovasi berlangsung selama 75 hari, beraart yang tidak dapat lapak tidak bisa berdagang selama 75 hari. Pada Rabu (9/10/2019) ini ios harus dikosongkan. Sebagian pedagang menilai perintah pengosongan disampaikan mendadak dan waktunya teramat singkat. Sosialisasinya juga dianggap minim. "Tentu tidak bisa begitu, karena ini menyangkut perut dan tidak ada kompensasi," ungkap Zulkarnaen.

Suku Dinas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Jakarta Pusat sempat menawarkan tempat relokasi sementara di daerah Johar Baru ke pedagang. Namun tawaran itu ditolak, lantaran mereka khawatir di lokasi itu tak ada pembeli. Belum lagi kapasitas di area tersebut dikatakan tak memadai.

"Solusi terbaik hendaknya diberikan, khususnya bagi seluruh para pedagang, bukan hanya sebagian. Dan para pedagang lainnya tak ingin kebijakan positif tersebut justru merugikan para pedagang. Sebab jika itu terjadi, potensi masalah lainnya timbul menjadi besar, karena ini urusan perut. Kalau perut lapar, bisa jadi masalah baru," katanya. (dade)







Post a Comment

0 Comments