![]() |
Kepala BMKG Andi Eka Sakya saat meyampaikan evaluasi. (Foto: Dade, TangerangNet.Com) |
NET – Letak Indonesia di atas katualistiwa dan di atas tiga lempeng
tekntonik, menjadikan rentan terhadap berbagai bentuk bencana hidrometeorologi
dan geologi sebagai dampak dari fenomena cuaca, iklim, dan kegemparan dan
posisi geografisnya.
“Posisi geografis Indonesia, di satu
pihak merupakan berkah dan pada sisi lain, Indonesia yang dapat yang diapit
oleh dua benua, dua samudera, dilalui ‘ring-of-fire’,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/1/2017).
Tingkat kerentanan di setiap wilayah, kata Andi Eka, tidak merata dan ekspose cuaca, iklim dan
kegempaan pun memberikan dampak yang berbeda dari satu daerah dengan daerah
yang lain. "Tahun 2016 telah berlau, banyak rangkaian kejadian dan
peristiwa yang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat
Indonesia," ucap Andi.
Hal itu dikatakan Andi saat acara "Evaluasi Keadaan Cuaca Iklim dan
peristiwa Gempa Bumi 2016 dan Updating puncak Musim Hujan dan Prediksi Banjir
2017", di Gedung Serba Guna Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jalan Angkasa 1 No. 2, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Seperti yang masih terekam pada 2016, kata Andi, banyak kejadian bencana hidrometeorologi
seperti banjir bandang di Garut 20 September 2016, banjir di Bandung 24 Oktober
2016, dan banjir di Gorontalo 25 Oktober 2016 dan beberapa kejadian cuaca
ekstrim di wilayah Indonesia. Adanya tanah longsor, hujan lebat disertai angin
kencang, dan gelombang tinggi (ekstrim)
yang terjadi pada Minggu I bulan Juni 2016 yang memicu strom tide di Pantai
Barat Sumatera, Selatan Jawa hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Lebih lanjut, berdasarkan data BNPB wilayah Pulau Jawa, terutama
Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat frekuensi tertinggi kejadian bencana
hidrometeorologi. Untuk kondisi cuaca secara umum, curah hujan tertinggi di
sepanjang tahun 2016 terjadi di Subulussalam, Aceh (31 Januari 2016) dengan
curah hujan 428 mm/hari," ujarnya.
Sedangkan untuk presentase kenaikan Hari Hujan (HH) di 2016 terhadap normal
HH 1981-2010, kata Andi, yaitu Pulau Jawa mengalami kenaikan jumlah HH hingga
92,6 persen. Daerah yang mengalami jumlah HH lebat di atas 50 mm/hari (HH50)
terjadi di Pulau Jawa (66,7 persen), sementara kenaikan jumlah HH sangat lebat
(>100 mm/hari) tertinggi terjadi di Kalimantan (59,1 persen).
"Tahun 2016 pun terjadi beberapa siklon tropis di wilayah perairan
sebelah Utara dan Selatan dekat Indonesia yang membawa efek kejadian siklon
tropis, pada Agustus yang terjadi 187
kejadian siklon tropis di wilayah perairan sebelah utara dekat Indonesia,
sedangkan untuk tropis yang terjadi di sebelah Selatan sebanyak 58 kejadian
siklon tropis," ungkap Andi.
Oleh karena itu, imbuh Andi, suhu maksimum tertinggi pada 2016 terjadi di
Kota Baru (Kalsel) 15 Mei dengan suhu 38,40 c, dan suhu minimum terendah
terjadi di Enarotali Papua (5 Maret 2016) dengan suhu 10,20 C. Dengan melihat
tren kenaikan suhu, maka disepanjang tahun 2016 pun, penyebaran hotspot,
berdasarkan data wilayah Kalbr memiliki jumlah hotspot tertinggi (944), Riau
(684), dan Papua (569).
"Kondisi variabilitas dan perubahan iklim di tahun 2016, terlihat
adanya peningkatan curah hujan di beberapa wilayah yang menjadikan curah hujan
tahunan 2016 dibandingkan tahun 2015 lebih basah di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi ini tidak sebasah jika dibandingkan tahun 1998, karena pada tahun 2016
La Nina dalam kategori lemah," kata Andi. (dade)
0 Comments