Oleh: Gufroni
Gufroni dan lukisan Kiyai Ahmad
Dahlan sedang bermain biola.
(Foto: Ist/koleksi pribadi Gufroni)
DAHULU, saat remaja dan beranjak dewasa penulis tidak mengenal Muhammadiyah. Penulis hidup di lingkungan nahdliyin. Tiada hari tanpa sarungan.
Namun kehidupan punya jalannya sendiri, penulis justru menjadi bagian dari kader persyarikatan. Bukan sebagai warga tapi terlibat penuh dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar melalui lembaga advokasi. Mulai di Satgas Advokasi Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah sebagai direktur dan berlanjut di Lembaga Bantuan Hukum Advokasi Publik Pimpinan Pusat (LBH AP PP) Muhammadiyah hingga saat ini.
Perjalanan itu tidak selamanya mulus. Banyak tuduhan dialamatkan kepada penulis. Gufroni kader karbitan, tidak jelas, dan dianggap penyusup. Dituduh punya aliran radikal ekstrim, eks HTI (Hizbut Tahrir Indonesia-red), bagian dari mafia tanah, memanfaatkan nama Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi dan berbagai tuduhan lainnya.
Juga diancam untuk dipecat dari Muhammadiyah, disomasi dan diancam dipenjarakan, diteror oleh parcok dan juga tawaran uang miliaran rupiah. Terakhir penulis dijanjikan uang 3 miliar rupiah oleh Sekjen GRIB Jaya apabila bisa memenjarakan Hercules.
Penulis bangga menjadi anak ideologis persyarikatan. (***)
Yogyakarta, 27 Juni 2026.



0 Comments