| Maket Tangerang Waterfront City. (Foto: Istimewa/MA) |
Kajian Tata Kota, Infrastruktur Air, dan Kebijakan Lingkungan
I. Kondisi Aktual Banjir Kota Tangerang
Banjir yang terjadi hampir setiap tahun di wilayah Kota Tangerang menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar faktor hujan, tetapi merupakan kombinasi dari:
1. Tata ruang kota yang tidak terkendali
2. Kerusakan sistem drainase
3. Alih fungsi lahan resapan
4. Penyempitan sungai dan kali
5. Kurangnya integrasi pengelolaan air
Dalam laporan banjir terbaru, genangan mencapai 1,5 meter di beberapa wilayah seperti Periuk, Karawaci, dan Cibodas.
Padahal wilayah Tangerang dilalui sungai besar yaitu:
Sungai Cisadane, Kali Sabi, Kali Angke, dan Kali Mookervart.
Ironisnya, walaupun memiliki sungai besar, banjir tetap terjadi.
Ini menunjukkan sistem pengendalian air tidak bekerja optimal.
II. Penyebab Utama Banjir Tangerang
A. Hilangnya Daerah Resapan Air
Dalam 20–30 tahun terakhir terjadi perubahan besar:
sawah → perumahan
rawa → apartemen
tanah kosong → ruko
situ / danau kecil → ditimbun
Akibatnya: air hujan tidak meresap, air langsung menuju drainase, drainase tidak mampu menampung.
Ini disebut urban runoff effect.
B. Perizinan Properti Tidak Terkontrol
Banyak pembangunan:
Perumahan, apartemen, hotel, pusat bisnis, ruko yang tidak mematuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Beberapa masalah:
1. Koefisien Dasar Bangunan terlalu besar
2. Tidak ada sumur resapan
3. Drainase perumahan kecil
4. Fasos fasum dialihfungsikan
Akibatnya:
Satu kawasan perumahan bisa menghasilkan debit air 10 kali lebih besar dibanding lahan alami.
C. Sungai dan Kali Menyempit
Banyak sungai di Tangerang mengalami:
penyempitan
pendangkalan
okupasi bangunan
Contoh sungai yang bermasalah: Kali Mookervart, Kali Sabi, Kali Ledug, Kali Angke,
Beberapa bahkan: dijadikan rumah, dijadikan gudang, dan ditimbun. Akibatnya aliran air terhambat.
D. Sistem Drainase Kota Tidak Terintegrasi
Drainase Tangerang saat ini masih bersifat: lokal dan parsial.
Artinya: setiap wilayah membuat drainase sendiri, tidak terhubung secara sistemik
Padahal kota besar memerlukan:
MASTER PLAN DRAINASE TERPADU
III. Wacana Sodetan Cisadane (Solusi Lama yang Terlupakan)
Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah sodetan antara sungai menuju Sungai Cisadane.
Rencana ini sudah muncul sejak awal tahun 2000-an.
Beberapa kajian menyebut sodetan dapat mengurangi debit banjir hingga 40 persen dengan mengalihkan aliran air dari daerah hulu.
Namun proyek ini sempat ditolak oleh pemerintah daerah karena dikhawatirkan menambah debit air Cisadane dan memicu banjir di Tangerang.
Padahal jika didesain dengan baik, sodetan dapat berfungsi sebagai:
1. kanal pengendali banjir
2. reservoir air
3. sumber air baku PDAM
4. kawasan wisata air
Konsep ini sudah diterapkan di banyak negara.
IV. Solusi Strategis untuk Tangerang
1. Masterplan Air Tangerang Raya
Perlu dibuat MASTER PLAN AIR 50 TAHUN
Meliputi: Sungai, Situ, Kanal, Waduk, dan Drainase.
Dengan konsep: Integrated Water Management
2. Relokasi Kawasan Langganan Banjir
Beberapa kawasan banjir kronis perlu dikaji untuk: relokasi bertahap.
Contoh kawasan: Pondok Arum, Periuk, Sangiang, Ciledug, dan Karawaci.
Lahan tersebut bisa diubah menjadi: waduk kota, taman air, reservoir PDAM
kawasan wisata air.
3. Pembuatan Danau Kota (Retention Lake)
Contoh konsep:
1. Danau kota
2. taman air
3. kawasan wisata
4. pusat air baku
Ini memberikan tiga manfaat: pengendalian banjir, pariwisata, dan sumber air.
4. Penertiban Sungai
Langkah yang harus dilakukan:
1. Normalisasi sungai
2. Penggusuran bangunan di bantaran
3. Pelebaran kali
4. pengerukan sedimentasi
Tanpa ini, banjir tidak akan selesai.
5. Reformasi Izin Tata Ruang
Pemerintah harus meninjau ulang: semua izin properti, izin ruko, izin apartemen,
dan izin industri.
Aturan baru:
Minimal 30–40 persen kawasan harus menjadi ruang hijau atau resapan.
V. Contoh Kota Dunia yang Berhasil Mengatasi Banjir
Beberapa kota pernah mengalami banjir parah tetapi berhasil berubah.
1. Seoul – Korea Selatan
Proyek: Revitalisasi sungai Cheonggyecheon
Hasil: banjir berkurang, suhu kota turun, dan wisata meningkat.
2. Belanda
Program nasional: Room for the River
Konsepnya: memberikan ruang bagi sungai, relokasi pemukiman, dan membuat waduk banjir.
3. Singapura
Program: ABC Waters
Membuat: sungai menjadi taman kota, waduk menjadi wisata, dan drainase menjadi .hijau
6. Rekomendasi Besar untuk Tangerang Raya
Saya menyarankan dibentuk:
BADAN OTORITA AIR TANGERANG RAYA
Yang menangani: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan.
Karena banjir tidak bisa diselesaikan oleh satu kota saja.
7. Visi Tangerang Masa Depan
Jika dilakukan dengan serius, Tangerang bisa menjadi:
WATERFRONT CITY
Konsepnya: kota sungai, wisata air, kota hijau, dan kota tanpa banjir.
Penutup
Banjir Tangerang bukan takdir.
Banjir adalah akibat dari: tata kota, kebijakan pembangunan, dan pengelolaan air.
Jika pemerintah serius membuat kajian ilmiah dan rencana jangka panjang 30–50 tahun, maka Tangerang bisa berubah dari:
kota langganan banjir → kota air modern. (***)



0 Comments