Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Analisis Mendalam Banjir Di Kota Tangerang

Maket Tangerang Waterfront City. 
(Foto: Istimewa/MA) 
 Oleh: KH TB Mahdi Adhiansyah, SH


Kajian Tata Kota, Infrastruktur Air, dan Kebijakan Lingkungan


I. Kondisi Aktual Banjir Kota Tangerang


Banjir yang terjadi hampir setiap tahun di wilayah Kota Tangerang menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar faktor hujan, tetapi merupakan kombinasi dari:


1. Tata ruang kota yang tidak terkendali


2. Kerusakan sistem drainase


3. Alih fungsi lahan resapan


4. Penyempitan sungai dan kali


5. Kurangnya integrasi pengelolaan air


Dalam laporan banjir terbaru, genangan mencapai 1,5 meter di beberapa wilayah seperti Periuk, Karawaci, dan Cibodas.


Padahal wilayah Tangerang dilalui sungai besar yaitu:


Sungai Cisadane, Kali Sabi, Kali Angke, dan Kali Mookervart.


Ironisnya, walaupun memiliki sungai besar, banjir tetap terjadi.


Ini menunjukkan sistem pengendalian air tidak bekerja optimal.


II. Penyebab Utama Banjir Tangerang


A. Hilangnya Daerah Resapan Air


Dalam 20–30 tahun terakhir terjadi perubahan besar:


sawah → perumahan


rawa → apartemen


tanah kosong → ruko


situ / danau kecil → ditimbun


Akibatnya: air hujan tidak meresap, air langsung menuju drainase, drainase tidak mampu menampung.


Ini disebut urban runoff effect.


B. Perizinan Properti Tidak Terkontrol


Banyak pembangunan:


Perumahan, apartemen, hotel, pusat bisnis, ruko yang tidak mematuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).


Beberapa masalah:


1. Koefisien Dasar Bangunan terlalu besar


2. Tidak ada sumur resapan


3. Drainase perumahan kecil


4. Fasos fasum dialihfungsikan


Akibatnya:


Satu kawasan perumahan bisa menghasilkan debit air 10 kali lebih besar dibanding lahan alami.


C. Sungai dan Kali Menyempit


Banyak sungai di Tangerang mengalami:


penyempitan


pendangkalan


okupasi bangunan


Contoh sungai yang bermasalah: Kali Mookervart, Kali Sabi, Kali Ledug, Kali Angke,


Beberapa bahkan: dijadikan rumah, dijadikan gudang, dan ditimbun. Akibatnya aliran air terhambat.


D. Sistem Drainase Kota Tidak Terintegrasi


Drainase Tangerang saat ini masih bersifat: lokal dan parsial.


Artinya: setiap wilayah membuat drainase sendiri, tidak terhubung secara sistemik


Padahal kota besar memerlukan:


MASTER PLAN DRAINASE TERPADU


III. Wacana Sodetan Cisadane (Solusi Lama yang Terlupakan)


Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah sodetan antara sungai menuju Sungai Cisadane.


Rencana ini sudah muncul sejak awal tahun 2000-an.


Beberapa kajian menyebut sodetan dapat mengurangi debit banjir hingga 40 persen dengan mengalihkan aliran air dari daerah hulu. 


Namun proyek ini sempat ditolak oleh pemerintah daerah karena dikhawatirkan menambah debit air Cisadane dan memicu banjir di Tangerang. 


Padahal jika didesain dengan baik, sodetan dapat berfungsi sebagai:


1. kanal pengendali banjir


2. reservoir air


3. sumber air baku PDAM


4. kawasan wisata air


Konsep ini sudah diterapkan di banyak negara.


IV. Solusi Strategis untuk Tangerang


1. Masterplan Air Tangerang Raya


Perlu dibuat MASTER PLAN AIR 50 TAHUN


Meliputi: Sungai, Situ, Kanal, Waduk, dan Drainase.


Dengan konsep: Integrated Water Management


2. Relokasi Kawasan Langganan Banjir


Beberapa kawasan banjir kronis perlu dikaji untuk: relokasi bertahap.


Contoh kawasan: Pondok Arum, Periuk, Sangiang, Ciledug, dan Karawaci.


Lahan tersebut bisa diubah menjadi: waduk kota, taman air, reservoir PDAM


kawasan wisata air.


3. Pembuatan Danau Kota (Retention Lake)


Contoh konsep:


1. Danau kota


2. taman air


3. kawasan wisata


4. pusat air baku


Ini memberikan tiga manfaat: pengendalian banjir, pariwisata, dan sumber air.


4. Penertiban Sungai


Langkah yang harus dilakukan:


1. Normalisasi sungai


2. Penggusuran bangunan di bantaran


3. Pelebaran kali


4. pengerukan sedimentasi


Tanpa ini, banjir tidak akan selesai.


5. Reformasi Izin Tata Ruang


Pemerintah harus meninjau ulang: semua izin properti, izin ruko, izin apartemen,

dan izin industri.


Aturan baru:


Minimal 30–40 persen kawasan harus menjadi ruang hijau atau resapan.


V. Contoh Kota Dunia yang Berhasil Mengatasi Banjir


Beberapa kota pernah mengalami banjir parah tetapi berhasil berubah.


1. Seoul – Korea Selatan


Proyek: Revitalisasi sungai Cheonggyecheon


Hasil: banjir berkurang, suhu kota turun, dan wisata meningkat.


2. Belanda


Program nasional: Room for the River


Konsepnya: memberikan ruang bagi sungai, relokasi pemukiman, dan membuat waduk banjir.


3. Singapura


Program: ABC Waters


Membuat: sungai menjadi taman kota, waduk menjadi wisata, dan drainase menjadi .hijau


6. Rekomendasi Besar untuk Tangerang Raya


Saya menyarankan dibentuk:


BADAN OTORITA AIR TANGERANG RAYA


Yang menangani: Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan.


Karena banjir tidak bisa diselesaikan oleh satu kota saja.


7. Visi Tangerang Masa Depan


Jika dilakukan dengan serius, Tangerang bisa menjadi:


WATERFRONT CITY


Konsepnya: kota sungai, wisata air, kota hijau, dan kota tanpa banjir.


Penutup


Banjir Tangerang bukan takdir.


Banjir adalah akibat dari: tata kota, kebijakan pembangunan, dan pengelolaan air.


Jika pemerintah serius membuat kajian ilmiah dan rencana jangka panjang 30–50 tahun, maka Tangerang bisa berubah dari:


kota langganan banjir → kota air modern. (***)




Post a Comment

0 Comments