Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kirab Budaya Dan Ritual Ngadiukeun Pare di Leuit Warnai Pagi Seren Taun Kasepuhan Cisungsang

Gubernur Banten Andra Soni bersama 
menyatu dengan masyarakat adat Baduy. 
(Foto: Istimewa)  




NET - Rangkaian puncak acara Seren Taun Kasepuhan Cisungsang diawali dengan kirab budaya yang penuh warna dan makna. Sejak pukul 08.30 WIB, Ahad (28/9/2-25) para peserta kirab mulai berjalan dari pertigaan Cikarang–Cisungsang menuju area depan Imah Gede Kasepuhan Cisungsang. 

Ketua Adat Guru Cucuk Kasepuhan Cisungsang Abah Usep Suyatma SR menyampaikan kirab ini menampilkan berbagai unsur adat dan budaya, di antaranya Lengser, Gotongan Pare, Iringan Baris Kolot, Parupuyan Bokor, Payung Sesepuh, Dayang-dayang, Rengkong, Tanggungan, Angklung, hingga atraksi Debus. 


Bukan hanya itu, kata Abah Usep, barisan kirab diramaikan oleh para rendangan, siswa-siswi SD hingga SMA, masyarakat adat dari 10 desa wilayah adat Kasepuhan Cisungsang, kelompok Gondang, serta komunitas motor Brotherhood 1%MC yang turut ambil bagian dalam pengawalan pawai budaya perayaan budaya ini dalam program Brotherhood For Culture.


Setibanya di Imah Gede, kata Abah Usep, seluruh peserta kirab bersama tamu undangan berkumpul untuk mengikuti ritual adat Ngadieukeun Pare di Leuit, salah satu ritual utama dalam rangkaian Seren Taun. 


“Prosesi sakral ini diawali dengan lantunan rajah oleh Aki Adhani yang kemudian dilanjutkan dengan tembang-tembang adat yang dibawakan oleh Ibu Eka Tri Ekawati,” tutur Abah Usep.


Memasuki inti acara, jelas Abah Usep, dilakukan prosesi ngamitkeun, yaitu menyimpan padi ke dalam leuit (lumbung padi) sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Sri. Prosesi simbolis ini dilakukan langsung oleh Gubernur Banten dan Bupati Lebak, disaksikan oleh masyarakat adat serta para tamu undangan. 


“Momen tersebut menjadi penanda kuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat dalam menjaga serta merawat tradisi leluhur,” ujar Abah Usep.


Usai pelaksanaan ritual, acara berlanjut dengan Sarasehan yang menghadirkan berbagai tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat. 


“Sarasehan ini menjadi ruang penting untuk berdialog, merefleksikan nilai-nilai budaya, sekaligus merumuskan langkah ke depan dalam menjaga warisan adat, lingkungan, serta pengembangan pariwisata dan pendidikan di wilayah Cisungsang,” pungkas Abah Usep. (*/pur)


Post a Comment

0 Comments