![]() |
| Ilustrasi, Gedung DPR RI di Senayan Jakarta. (Foto: Istimewa/detik.com) \ |
DPR RI telah lama menjadi stempel kekuasaan bagi kejahatan
entitas politik legislatif dan yudikatif. Dari gedung parlemen berubah menjadi
layaknya bangunan margasatwa. Habitat legislator Senayan sepertinya memang
pantas disebut kebun Binatang.
Warga Jakarta khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya
kini bisa bergembira karena sudah ada kebun binatang baru di daerah Senayan,
Jakarta. Kawasan populasi hewan di Senayan menambah daftar kebun binatang yang
sudah ada sebelumnya, yakni Kebun Binatang Ragunan di bilangan Jakarta Selatan.
Sebelumnya, kawasan tertentu di daerah Senayan itu menjadi
tempat orang-orang terhormat dan terpercaya yang mewakili rakyat Indonesia.
Orang-orang pilihan yang disumpah atas nama Tuhan dan berjanji mengemban amanat
rakyat. Suaranya, kebijakannya bahkan seluruh hidupnya sudah tertuang dalam
konstitusi mengedepankan kepentingan rakyat.
Namun apa lacur yang terjadi pada anggota dewan perwakilan
rakyat. Seiring waktu secara perlahan namun pasti terus bertransformasi dari
manusia mulia menjadi aneka binatang. Bukan binatang dalam wujud fisik,
melainkan sifat dan watak yang tergambar dari ucapan, pola pikir dan
perilakunya. Kebenaran dan keadilan sulit terasa bahkan sekadar mencium
aromanya di tempat wakil rakyat itu. Distorsi penyelenggaraan negara terlalu
sering berujung sah dan resmi melalui sidang parlemen.
Entah kegembiraan atau kesedihan yang menyakitkan. Kehadiran
Kebun Binatang Ragunan itu bisa saja menjadi tontonan dan hiburan yang
menyenangkan bagi rakyat. Dengan pelbagai atraksi dan keluconnya, mereka tak
kalah dengan penampilan badut dan hewan sirkus. Dalam gempuran pajak yang
eksploitatif, kemiskinan yang menyelimuti dan napas sesak menahun rakyat, DPR
justru menari-nari, sumringah dan terbahak-bahak penuh kebahagiaan. Terus
melahirkan nelangsa rakyat seraya meminta tambahan gaji dan fasilitas anggota
dewan.
Manusia-manusia yang diangkat status sosial dan drajatnya
karena mewakili amanat rakyat itu justru kerap tidur, bercanda dan berjoget ria
kegirangan di tengah kesengsaraan dan penderitaan rakyat yang pilu dan menyayat. Orang-orang berpendidikan
yang menyandang gelar pendusta, tuna etika dan cacat moral, hidup glamor dengan
banyak previllage.
Kelucuan yang sama sekali tak lucu, bahkan memuakkan dan
teramat menyakitkan. Semestinya sebelum menjadi binatang, mereka harusnya
menjadi pemimpin yang amanah. Dengan gaji dan fasilitas mewah yang menggiurkan
mereka berkewajiban menyuarakan hati nurani rakyat, bukan sebaliknya
mengkhianati dan menyakiti rakyat.
Tapi apa boleh dikata, meski dilahirkan dari rahim rakyat,
mereka tumbuh besar dengan kelainan kemanusiaan. Tanpa hati dan akal yang
tunduk pada Tuhan. Merekalah yang punya mata dan telinga tapi tak mau melihat
dan mendengar keluhan rakyat dan perintah Tuhan, tak ubahnya binatang ternak
bahkan lebih sesat lagi. Mengabaikan kebenaran dan keadilan, menjadi
orang-orang yang tergolong lalai. Mereka yang kini menjadi penghuni Kebun
Binatang Senayan. (***)
Bekasi Kota Patriot: 28 Safar 1447 H/22 Agustus 2025




0 Comments