Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Visi Misi Dan Program HELMY HALIM
BAKAL CALON WALIKOTA TANGERANG 2024-2029

Helmy Halim. 
(Foto: Timses Helmy Halim) 


PENDAHULUAN

Pemerintahan dalam semua tingkatan memiliki fungsi yaitu melaksanakan pelayanan publik, pembangunan, pemberdayaaan masyarakat dan menjalankan fungsi regulasi. Agar pelaksanaannya berjalan efektif, pada pemerintahan daerah disusun pembagian kewenangan antar tingkatan pemerintahan, penentuan prioritas pembangunan dan tahapan pelaksanaan sesuai dengan masa jabatan masing-masing pimpinana daerah.

Fungsi pemerintahan dimaksud dijalankan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang secara umum terdiri dari variable pendidikan, Kesehatan, Pembangunan Infrastruktur, serta daya beli masyarakat.

Pembangunan Daerah pada dasarnya menyangkut empat perubahan mendasar. Antara lain: perubahan struktur sosial daerah, perubahan sikap mental atau kebudayaan daerah, pertumbuhan ekonomi daerah, dan pengentasan kemiskinan daerah termasuk pengangguran dan ketimpangan. Melihat kondisi pembangunan saat ini, perlu adanya inovasi dan terobosan yang kreatif sehingga Kota Tangerang dapat dibanggakan dan maju.

Misi pemerintahan sebelumnya yakni bersama mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial dengan mewujudkan tata pemerintahan yang profesional dan berintegritas. Lalu, bersama meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana kota yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dan bersama meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berkeadilan.

Namun dirasakan dalam 1 dekade ini, Visi bersama ini, belum sepenuhnya dapat terealisasi. Pembangunan SDM masih perlu penyempurnaan dibidang Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Tata Kelola pemerintahan dengan yang Profesional dan Berintegritas perlu penyempurnaan. Pembangunan sarana dan prasarana kota yang berwawasan lingkungan, malah banyak kriktik publik. Lalu pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang yang masih belum berkeadilan dan mandiri.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan Kota Tangerang yang maju dan modern 5 tahun mendatang (2024-2029), serta kesejahteraan rakyat meningkat sesuai yang dicita-citakan bersama. Saya uraikan Visi dan Misi serta Program unggulan Helmy Halim Bakal Calon walikota Tangerang 2024-2029. Visi dan Misi ini menjadi tekad pembangunan Saya untuk dijalankan sepenuh hati, penuh pengabdian dan tanggungjawab, kepada Tuhan YME dan kepada Warga kota Tangerang.

PERSOALAN KOTA TANGERANG

1. Tata Kelola Pemerintahan dan Manajemen Aset

Dalam tata kelola pemerintahan dari hasil evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (AKIP), Reformasi Birokrasi (RB), serta Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), masih adanya ASN maupun Non-ASN di Pemerintah Kota Tangerang yang tidak memiliki Sertifikat Kompetensi PPK Tipe B, Pokja Pemilihan, atau Pejabat Pengadaan. Berdasarkan database yang kami miliki hingga tanggal 31 Desember 2023. Data LKPP juga menyebutkan bahwa sampai dengan tanggal 31 Desember 2023, terdapat 684 orang pada Pemerintah Kota Tangerang yang memiliki Sertifikat PBJ Tingkat Dasar/Level-1.

Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSD) Kota Tangerang mencatat per 19 Maret 2024, jumlah PPK berkompetensi tipe C di Pemkot Tangerang sebanyak 54 orang. Dan kurang cepatnya sertifikasi asset Pemkot Tangerang, karena hanya 30 persen (1.700-an) sertifikasi dari total aset yang dimiliki Pemkot Tangerang sebanyak 6000-an Asset. Dikhawatirkan jika tidak cepat realisasikan Sertifikasi aset, Pemkot Tangerang akan kehilangan aset. Termasuk juga pennyerahan Fasos Fasum pengembang (property) yang berjalan landai.  

2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tangerang tahun 2024 ditargetkan hanya Rp.2,3 Triliun. Jumlah ini hampir sama dengan realisasi tahun 2023 sebesar Rp 2,2 Triliun. PAD Kota Tangerang saat ini sebagian besar berasal dari pembayaran PBB dan BPHTB. Sedangkan, untuk retribusi masih terbilang belum maksimal seperti, Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Daerah dan usaha lain yang syah yang belum optimal digali OPD (organisasi perangkat daerah) Terkait.

3. Digitalisasi Pelayanan Publik

Pertumbuhan Digitalisasi di Kota Tangerang dengan Platform digital Super Apps TangerangLIVE belum sepenuhnya dimengerti oleh perangkat daerah ataupun warga di 13 Kecamatan Kota Tangerang, karena tidak diiringi dengan peningkatan SDM di bidang IT. Masih banyak RT dan RW yang belum melek dunia digitalisasi termasuk juga realisasi peleyanan dengan menggunakan kertas.

4. Pariwisata dan Budaya

Kota Tangerang dilintasi sungai Cisadane dan ada beberapa situ didalamnya, termasuk budaya yang kuat. Kurangnya pembangunan infrastruktur dan ekploritasi alam untuk wisata yang bertaraf nasioanal ataupun internasional, yang dapat dipadukan dengan ciri khas budaya Kota Tangerang. Jika pun ada, penempatan objek wisata terkadang tidak berwawasan lingkungan termasuk terindikasi menghilangkan budaya. Sejauh ini, hanya Taman yang menjadi objek wisata di Kota Tangerang. Tercatat, sampai 2023 ini Kota Tangerang telah memiliki 31 taman tematik, yang tersebar di 13 kecamatan. Diantaranya, Taman Gajah, Hutan Kota, Taman Potret, Taman Elektrik, Taman Pisang, Taman Prestasi, dan itupun hanya wisatawan lokal. Perlunya ada pembangunan Tugu Tengger (benteng) yang menjadi sejarah Tangerang, penguatan festival budaya Kota Tangerang bertaraf Internasional dan pembangunan pariwisata di sekitaran sungai Cisadane dan situ yang bekerjasama pemerintah pusat dan provinsi dan tempat hiburan keluarga.

5. Pengangguran dan Kemiskinan

Pengangguran masih menjadi perhartian. Walau trendnya pengangguran menurun. Namun Jumlahnya masih cukup tinggi yakni 6,79 persen di tahun 2023. Begitupun dengan kemiskinan di Kota Tangerang 5,89 persen di tahun 2023. Artinya pemerintah harus fokus dengan membuat Fakta Integritas buat perusahaan dan program pengentasan kemikinan. Perlu ditingkatkan program Bantuan Sosial Tunai (BST) untuk meringankan beban ekonomi warga yang terdampak kemiskinan. Bansos pendidikan, Peningkatan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).

6. Penaataan Wilayah (Pemukiman)

Permukiman atau perumahan merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan. Pemukiman yang nyaman, aman, sehat dan layak huni menunjukkan semakin baiknya kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Banyaknya Kawasan pemukiman yang kumuh sesuai dengan Keputusan walikota Tangerang No.663/Kep.668 Tahun 2016 ada sekitar 16 Kelurahan yang kategori Berat, Diantaraya di Kelurahan Manis Jaya, Kedaung Baru, Mekar sari, Sumur Pacing dll. Data ini tidak hanya menggambarkan masih banyaknya jumlah rumah tangga kumuh, lebih dari itu, juga membuktikan adanya ketimpangan pembangunan dan distribusi kesejahteraan. Selain itu, akses rumah tangga terhadap air minum masih kurang, juga penataan dan penamaan wilayah yang masih bukan kota maju dan modern.

7. Pendidikan

Persoalan pendidikan pada sebaran SMP Negeri di Tangerang yang tak merata, terdapat 33 SMPN di Kota Tangerang, dan 7 SMPN ada di Kecamatan Tangerang, hanya ada 1-3 SMPN per kecamatan di 12 kecamatan lainnya di Kota Tangerang. Ini mempersulit warga untuk mengakses pendidikan SMP Negri. Sementara program bantuan sekolah gratis di swasta belum didukung oleh infrastruktur dan mutu pendidikan yang sama dengan sekolah negri.

8. Infrastruktur Jalan dan Gedung

Kondisi jalan di Kota Tangerang yang sering mendapat keluhan warga adalah jalan TMP Taruna Tangerang karena kondisi jembatanya terlalu tinggi, dan membuat pengguna jalan tidak nyaman. Dari data yanga ada ruas jalan kota dan lingkungan di Kota Tangerang adalah 3.907 ruas atau 829,9 km, ada sekitar 6,9 Persen ruas jalan dalam keadaan rusak sedang, ringan dan berat. Saat ini juga belum ada gedung-gedung yang mensuport organisasi pers, masyarakat dan akademisi. 

10. Kesehatan

Kasus kematian ibu dan bayi di kota Tangerang dari data tahun 2022 sebesar  12,67 persen, permasalahan stunting dan gizi buruk pada balita 11,8 persen pada 2022, masih adanya peningkatan kasus penyakit menular dan penyakit tidak menular, obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun keatas dan masih ditemukannya ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta belum meratanya fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah seperti RSUD di Wilayah Kota Tangerang dan kurangnya layanan mobil jenazah.

11. Sampah dan Lingkungan

Permasalahan sampah di Kota Tangerang menjadi PR yang besar, apalagi volume sampah yang mencapai 1500 ton per harinya. TPA Rawa Kucing sudah overlood yang dampaknya kepada warga sekitar, seperti kebakaran dan pencemaran lingkungan. Kawasan industri yang mengakibatkan pencemaran lingkungan juga saat ini masih tinggi termasuk pencemaran Udara. Kualitas udara Kota Tangerang memburuk. Terbaru, kualitas udara di Kota Tangerang menempati tingkat pertama pencemaran udara se Jabodetabek indikator tidak sehat dengan angka indeks mencapai 131 pada Rabu 6 Desember 2023 lalu seperti dikutip dari website ispu.menlhk.go.id.

12. Transportasi dan Lalu Lintas

Kondisi eksisting pelayanan transportasi di Kota Tangerang belum sepenuhnya mendukung terhadap kelancaran mobilitas warga dan pertumbuhan daya saing daerah. Beberapa permasalahan yang ada seperti belum terintegrasinya jaringan jalan lintas, atau jalur lintas yang mengkibatkan kecelakaan dan kemacetan seperti d Jalan Daan Mogot. Belum adanya jalan melingkar (ring road) untuk menguarai kemacetan.

13. Keagamaan

Ada 380 Lembaga pendidikan agama di Kota Tangerang masih kurang mendapatkan perhatian, termasuknya tidak naiknya-naiknya insentif untuk 5.560 tenaga pendidik agama termasuk guru mengaji dan guru Madrasah Diniyah Takmiliyah hingga 10 tahun ini. Dan belum ada perhatian khusus buat pengurus Masjid, Mushola, Vihara, Gereja se Kota Tangerang. Termasuk belum masifnya kegiatan keagamaan buat perangkat daerah. 

14. Daya Saing dan Perekonomian

Daya saing ekonomi rasanya Kota Tangerang, masih tergolong biasa saja. Saat ini pelaku usaha besar atau UMKM kurang mendapatkan perhatian dalam hal pemasaran produk dan khusus UMKM fasilitas Tempat dan support digitalisasi yang belum ada. Walau memang pertumbuhan ekonomi sebesar 5,98 persen pada tahun lalu, sekaligus mampu mengatasi dampak resesi serta memasuki tren pertumbuhan ekonomi yang positif. Bahkan, pada tahun 2024, LPE ditargetkan berada pada kisaran 4,86 persen hingga 5,30 persen. Kurang memaksimalkan defisit Rp510 miliar pertahunnya dari APBD untuk perteumbuhan ekonomi menjadi tantangan kedepan.

15. Korupsi dan Birokrasi

Persoalan korupsi di Kota Tangerang, perlu mendapat perhatian khusus mengingat praktik beserta dampaknya sudah bersifat sistemik. Isu korupsi dalam beberapa tahun terakhir terus menguap sehingga dirasakan mengganggu proses pelayanan dan penyelenggaraan pemerintahan. Dengan terkuaknya beberapa kasus oleh penegak hukum, di satu sisi telah mempertebal persepsi korupsi masyarakat tentang pemerintahan, namun di sisi lain sejatinya dapat menjadi momentum bersama untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh dan mendasar. Kinerja birokrasi Kota Tangerang tersebut tergambar dari hampir semua aspek penilaian kinerja yang menuntut adanya kedisiplinan, transparansi, akuntabilitas dan integritas. Kurang Reward kepada ASN yang berprestasi ada kenaikan jabatan karena like and dilike pimpinan, bukan karena Merit Sistem pegawai.

16. Banjir

Penanggulangan bencana banjir dirasakan masih kurang. Saat ini, ada 26 titik banjir se Kota Tangerang, diantaranya ada di Kampung Candulan Kecamatan Cipondoh, Kampung Gempol Kecamatan Pinang, Perumahan Taman Asri Kecamatan Larangan, Jl. Inpres Kecamatan Larangan, Perumahan Puri Kartika Kecamatan Ciledug, Komplek DDN Kecamatan Karang Tengah, Duren Villa Kecamatan Ciledug, dan Flyover Taman Cibodas Jl. Gatot Subroto.Tentu saja fakta ini jadi momok menakutkan bagi warga sehingga perlu upaya penjegahan sedini mungkin.

17. Tata Ruang 

Seiring dengan kota Layak Investasi dan memompa industri di wilayah Kota Tangerang maju, perlu pemanfaatan lahan untuk pembangunan infrastruktur transportasi dan fasilitas lainnya sedikit banyak telah mengikis pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH). Terutama di wilayah perkotaan, kebutuhan akan RTH semakin terasa mengingat pemanfaatan lahan untuk pembangunan makin massif, bahkan seringkali melanggar ketentuan. Di sisi lain, penataan ruang di Kota Tangerang Banten belum efektif akibat belum optimalnya kelembagaan dan implementasi penataan ruang maupun karena belum selarasanya rencana tata ruang provinsi dengan kabupaten/kota, termasuk dengan daerah perbatasan. Akibatnya, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah.

18. Ekonomi Kreatif dan Produk Unggulan

Ekonomi kreatif terutama di sektor industri rumah tangga, perdagangan dan jasa sangat penting bagi peningkatan kesejahteraan warga. Kemampuan warga untuk mengembangkan produk unggulan yang kreatif dan inovatif perlu didorong dengan memberikan dukungan akses permodalan. Tumbuhnya ekonomi kreatif akan membuka sumber pendapatan baru yang dapat menyokong ekonomi domestik warga. Termausk belum fokusnya melahirkan produk unggulan Kota Tangerang.

19. Pemberdayaan Masyarakat 

Kurangnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, akses informasi, dan keberlanjutan program sosial. Kolaborasi pemerintah kota dengan element masyarakat dan stakeholder masih kurang dan baru disyahkan Perda Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha (TJSL) dalam 1 dekade pemerintahan yang lalu. Sehingga pemberdayaan masyarakat kurang efektif. (Bersambung...)

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

0 Comments