Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hari Puisi Nasional, Mengulik Debat Klasik: Estetika Versus Makna

Wina Armada Sukardi.
(Foto: Istimewa)  


 Oleh: Wina Armada Sukardi, penyair

 

PADA Hari Puisi Nasional tahun 2023 ini, penulis ingin kembali mengulik ikhwal debat yang sudah muncul sejak dulu, yakni   mana yang lebih utana dan lebih penting dalam karya puisi: pencapaian estetis atau  nilai-nilai “puitis” sendiri, versus, penyampaian makna dan subtansinya?   

Debat soal ini sudah  berlangsung puluhan tahun, sehingga sering juga dianggap sebagai “debat klasik.”

Sebagai kritikus film, penulis sering menemukan para sineas terbelah  antara mereka yang lebih mengedepankan penyajian “estetika”  sinematogragis dan dengan mereka yang lebih mengutamakan substansi pesan. Makna.

Dalam dunia film nasional, “kutub” yang pertama diwakili oleh sutradara Teguh Karya dan Garin Nugroho, sementara “kubu” yang kedua diwakili  oleh Syumab Djaya dan Arifin C Noer dan beberapa lagi. Pada kubu pertama, gambar-gambar film sangat liris dan puitis, tapi soal pemaknaannya dapat diperdebatkan kemana-mana. Sedangkan di kubu kedua, penekanannya jelas pada maknanya, adapun teknis estetika cuma dianggap alat yang mengikuti pemaknaan.

Terjadi Juga di Sepak Bola

Ternyata tak hanya pada bidang seni adanya dikotomi semacam itu. Dalam dunia sepak bola juga ada. Pada satu sisi ada mazhab yang penting bermain bola efektif menciptakan gol, versus pada sisi lain mazhab yang mengedepankan permainan cantik. Pernainan indah.  Meskipun kedua-duanya sama-sama bertujuan menggapai kemenangan, tapi cara pendekatannya beda.

Saat penulis membuat puisi, secara di bawah sadar, “dilema” semacam itu sering muncul: apakah saya  ingin lebih  mengejar efek “estetika” dengan memperhatikan kata-kata, irama, ritme, diksi  dan struktur dan lain-lain unsur  yang menciptakan nuansa puitis, ataukah lebih mengutamakan “pesan” tanpa harus terlalu memperdulikan aspek-aspek yang berkaitan dengan nilai-nilai puitik atau puitis.

Tak perlu diperdebatkan, idealnya tentu secara sadar sang penyair ingin menghadirkan keduanya. Namun dalam realitas, praktis seringkali menjadi semacam dikotomi yang dilematis.

Secara unum, sebagian besar penyair, faham “nilai-nilai estetik” atau nilai “puitis” dan faham pula bagaimana cara menciptakannya. Mulai dari “ritme,” “pilihan kata”, “diksi” “akhiran kalimat yang dengan bunyi seirima,” “struktur” dan sebagai dan sebagainya.

Namun,  celakanya,  sering kali banyak penyair “terjebak” dalam pengejaran nilai-nilai  “puitis” atau “estetis,”  sehingga melupakan subtansi atau pesan atawa “massage. ” Walhasil puisi mereka  seperti  produk yang mengutamakan kemasan yang menarik tapi isinya sebenarnya hampar. Puisi semacam itu tak bicara apa-apa, sejatinya.

Sebaliknya banyak penyair yang terlampau mementingkan “subtansi” atau “isi” atau “massage” tapi kurang memperhatikan liris, ritme, diksi, kata atau kalimat yang bersifat “estetis”  atau “puitis.” Akibatnya hasil karya  puisinya sering terasa “vulgar” “kurang halus”  dan kehilangan sentuhan  puitisnya sendiri.

Silang Pendapat

Dari dulu, dua kutub ini saling silang pendapat. Kubu pertama berdalih, betapapun hebatnya pesan, jika tidak disanpaikan dengan pakem puitis, kehilangan nilai puisinya. Inti dari puisi terletak pada “etstetikanya.” Pada keindahannya. Tiada puisi tanpa estetika.

Sebaliknya  pihak kedua berdalilh, semua “estetika” atau nilai puitis hanyalah “keindahan semu” jika tidak memberikan makna yang memadai.  Puisi, bagaimana pun, harus punya makna. Punya pesan. Bukan cuma kata-kata salon tanpa atau kurang makna.

Debat “klasik” ini bukan hanya di ruang lingkup puisi, tapi juga pada bidang seni-seni lainnya.

Tentu, ada, bahkan banyak, penyair dan seniman yang mampu membuat puisi yang puitis dan estetis tetapi sekaligus juga bermakna, bernas dan subtil.

Tidak Gagap Soal Teknis

Memang (seharusnya) penyair yang baik sudah tidak lagi gagap dengan soal-soal teknis. Penguasa “unsur puitis” atau “estetika” sudah mendarah daging, sehingga sudah menjadi “alat” ekspresi menyampaikan pesan.

Sebaliknya, ada puisi penyair yang tidak atau  kurang memiliki nilai “puitis” atau “estetika,” tapi maknanya juga kosong dan hanya memamah biak yang sudah dikemukakan penyair lain sebelumnya. Puisi ini sejatinya gagal sebagai puisi.  Sedihnya harus kita akui, puisi yang bermunculan belakangan ini di media sosial, termasuk dari sejumlah mereka yang telah menamakan diri  “penyair, ” karyanya ada di claster ini.

Sebagian besar penyair boleh jadi mengalami  dilema semacam ini. Penyelesaiannya berbeda-beda. Menghadapi hal ini,  banyak sekali varian penyelesaiannya. Ada penyair yang memang terasa lebih mementingkan penciptaan estetik, sedang aspek pesan  disesuaikan dengan estetika itu. Pesan tunduk pada nilai puitik atau puitis. Sebaliknya, ada pula yang lebih mengutamakan “pesan” ketimbang nilai-nilai artistik.

Jangan pula dilupakan ada penyair yang karena pengalaman dan karakter dan bakatnya begitu kuat, sudah otomatis dapat menggabungkan estetika dengan pesan sekaligus secara serasi dan selaras. Mereka sama sekali tidak menghadapi persoalan ini. Itulah para penyair yang hebat.

Tidak Mengambil Posisi

Di mana posisi penulis?  Penulis tak mengambil posisi apapun atau di manapun. Sepanjang menurut intuisi  dan pemikiran kepenulisan saya, puisi yang saya buat sudah memadai, saya “lepas” ke publik. Biarlah publik yang menilainnya.

Ada yang menilai di beberapa puisi penulis, penulis tidak memperhatikan adanya pengulangan kata. Padahal bukannya penulis tak faham soal itu, tapi bagi penulis jika tidak mengganggu secara keseluruhan pengulangan  kata bukanlah masalah.

Ketika menulis puisi, penulis hanya ingin mengekspresikan perasaaan, suasana hati, imajinasi, pemikiran, analisis di karya puisi, dengan cara penulis sendiri. Dengan identitas penulis sendiri.  Dengan karakter penulis sendiri. Urusan penilaian mana yang lebih menonjol, apakah “estetika” atau “pemaknaan” penulis serahkan kepada publik untuk menilainya. Juga kepada kritikus untuk memuji atau mengencamnya.

Tugas penyair adalah menciptakan puisi yang sesuai dengan bakat dan  karakternya. DNA-nya sendiri. Bukan untuk memuaskan “selera” publik, atau memenuhi anjuran kritikus. Tapi itu tak berarti penyair tak harus belajar dan patut berlaku bebal. Penyair harus tetap menghormati aspek-aspek keilmuan dalam menciptakan karya, tetapi melalui pendekatan yang independen. Yang personal.  Yang mencerminkan prinadinya sendiri. Hatinya sendiri. Pemikirannya sendiri.

     T a b i k.*

Post a Comment

0 Comments