Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rektor Baru, Harapan Baru Menuju UMT Berkelas Dunia

Rektor UMT Dr. H. Ahmad Amarullah, MPd 
(Foto: Istimewa) 


Oleh: Gufroni, SH.,MH

PASCA wafatnya H. Ahmad Badawi pada bulan Ramadhan, beberapa bulan lalu, hari ini terjawab sudah  pengganti posisi Almarhum semasa hidupnya ketika menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) yakni Bapak Dr H Ahmad Amarullah, MPd sebagai Rektor UMT  baru yang akan meneruskan sisa masa jabatan yang sebelumnya menjabat Wakil Rektor I UMT.

Tentu tidak mudah mempertahankan prestasi dan hasil capaian yang pernah ditoreh Almarhum selama menjabat Rektor UMT. Sudah banyak hasil dan kemajuan yang bisa kita saksikan bersama. Dalam waktu relatif singkat, UMT menjadi Kampus yang melesat cepat dengan jumlah mahasiswa yang mencapai belasan ribu dan sudah meluluskan ribuan alumninya.

UMT sekarang memiliki gedung kampus yang megah di Kawasan Pendidikan Cikokol, Kota Tangerang dengan 12 lantai dan 19 lantai yang sedang dibangun. Sehingga bila digabungkan menjadi 1912, sesuai dengan tahun kelahiran Muhammadiyah. Bahkan sebelumnya,  tanpa perlu menunggu waktu lama hanya butuh 5 tahun, UMT mendapat Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dengan predikat B. Ini suatu capaian yang patut dibanggakan dan diapresiasi.

UMT dengan nakhoda baru tentu saja kita harus optimis, beliau akan dapat mempertahankan prestasi yang sudah ditoreh  dan yakin UMT akan lebih maju dan berkembang  khususnya di Provinsi Banten. Akan banyak pekerjaan rumah untuk meneruskan cita-cita dan harapan Almarhum yakni UMT sebagai World Class University.

Dengan segala potensi dan kekuatan dari segenap civitas akademika, maka UMT akan lebih berkemajuan dengan prestasi tidak hanya lokal tapi juga nasional dan juga mendunia. Saya ingat kata-kata Almarhum “al Bantani, al Indonesia, addunnya”. Maksudnya UMT ada di Banten,  di wilayah Indonesia dan mendunia. Semoga harapan itu segera terwujud tidak lama lagi.

Namun demikian, tentu saja UMT harus mulai berbenah diri untuk menghadapi persaingan dan tantangan global yang kian keras. Perubahan ke arah yang lebih baik tak bisa ditawar, bila tak ingin terlindas karena kalah kompetisi dalam dunia perguruan tinggi. Meski UMT bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, satu dari sekian ratusan Pergururan Tinggi Muhammadiyah (PTM) bukan berarti terlena dengan nama besar persyarikatan.

Para pengelolanya dituntut untuk bekerja secara profesional mulai pimpinan rektorat, fakultas, pimpinan lembaga, dosen-dosennya hingga para karyawannya. Istilah “serahkan urusan pada ahlinya” harus menjadi pegangan ketika mengangkat seseorang untuk mengisi jabatan tertentu dan bukan atas dasar kedekatan semata.

Pun halnya dengan pengelolaan keuangan harus dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Tidak boleh ada 1 sen pun yang disalahgunakan. Semuanya harus dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini penting, untuk mewujudkan UMT yang kredibel dan dipercaya masyarakat.

Bahwa sumber pendapatan juga harus dicarikan terobosan baru dimana tidak selalu mengandalkan pemasukan melalui pembayaran SPP, melainkan dengan membuka unit-unit usaha yang produktif sebagai sumber pendapatan baru. Misal koperasi, toko waralaba, tempat wisata, pom bensin, cuci steam, dan lain sebagainya. Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, bisa menjadi salah satu contohnya.

UMT harus terus berkembang tidak hanya di Kota Tangerang, melainkan bisa membangun kampus di daerah lain seperti di Kabupaten Tangerang, Serang, Lebak, Pandeglang dan di kabupaten dan kota lain di Provinsi Banten tentu dengan standar pelayanan yang sama. Untuk memberi kemudahan masyarakat mendapat pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Tentu gagasan ini membutuhkan pemikiran dan perencanaan yang matang termasuk juga pembiayaannya.

Namun untuk jangka pendek, perlu dipikirkan beberapa fakultas seperti Fakultas Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Hukum yang saat ini masih menggunakan gedung aset milik Pemda Kabupaten Tangerang untuk memiliki gedung sendiri yang permanen dan tidak lagi berstatus sewa. Semoga pembangunan gedung berlantai 19 bisa menampung beberapa fakultas tersebut.

Terakhir, harapan kepada Rektor UMT yang baru yakni terkait masalah kesejahteraan para pegawainya juga terhadap para dosen yang sudah sekian lama mengabdi agar selalu diperhatikan hak-haknya. Meski dosen bukan karyawan sebagaimana UU tenaga kerja, paling tidak pengabdiannya selama ini perlu diapresiasi oleh pimpinan rektorat.

Hal yang bisa dilakukan seperti menaikkan honor jam mengajar, pembayaran tunjangan dosen tetap yang tepat waktu, menambah anggaran biaya penelitian, termasuk kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya sepenuhnya dari pihak kampus. Bila ini terlaksana, diyakini dosen-dosen yang potensial tersebut akan loyal dan makin semangat membesarkan nama UMT.

Sebagai penutup tulisan sederhana ini, ijinkanlah penulis mengucapkan selamat yang setinggi-tingginya kepada Bapak Dr H Ahmad Amarullah, MPd yang telah diangkat sebagai Rektor UMT. Insya Allah dengan kepemimpinan Bapak, UMT akan makin jaya dan semakin berkemajuan. Aamiin.

Tangerang,  09 Juli 2019. (***)



Penulis adalah Dosen Tetap FH UMT dan mahasiswa PDIH UMS.




Post a Comment

0 Comments