Bapak Aniaya Anak Hingga Tewas Dijebloskan Ke Penjara

Baca Juga

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes 
Polisi Abdul Karim dan jajaran perlihatkan 
barang bukti kepada wartawan. 
(Foto: Man Handoyo/TangerangNet.Com) 


NET - Gara-gara tega menganiaya anak kandung hingga tewas, Slamet Muhammad Nurdin, 25,  ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan Polres Metro Tangerang Kota.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Polisi Abdul Karim, Jumat (8/2/2019), kepada wartawan mengatakan penganiayaan yang kerap dilakukan oleh laki-laki asal Kalideres, Jakarta Barat kepada anaknya, Muhammad Syaifullah, 4 bulan, berakhir pada Rabu (6/2/2019) lalu. Pada saat ia baru pulang kerja  di rumah kontrakannya yang juga dijadikan sebagai tempat usaha warung kelontong di Kampung Bulak Kambing RT 01 RW 01, Kelurahan Pajang, Kecamatan Benda, Kota Tangerang.

Karena sibuk melayani pembeli, kata Kapolres, Sumini Andrian, 23, ibu kandung korban, menyerahkan korban kepada suaminya untuk digendong. Namun korban terus menangis, Sehingga pelaku kesal dan memukul bagian dada serta perut korban dengan kepalan tangan kanan.

Akibatnya, kata Kapolres,  tangisan bayi nahas itu terhenti seketika. Karena melihat anaknya tak bergerak, pelaku panik dan meletakkan tubuh mungil tersebut di ayunan.Beberapa saat kemudian,korban masuk ke dalan kamar. Karena melihat anaknya tek bergerak Sumini, berteriak histeris sambil  menanyakan kepada suaminya apa yang telah terjadi. 

Saat itu juga, kata Kapolres, pelaku mengajak istrinya untuk memeriksakan kondisi korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalideres, Jakarta Barat. Sesampai di rumah sakit, tim medis menyatakan bahwa korban sudah meninggal dunia.

Mendapat laporan dari warga, kata Kapolres, pihaknya datang ke lokasi untuk melakukan penyelidikan, sehingga akhirnya  pelaku ditangkap di rumah sakit. ''Setelah kami melakukan penyelidikan dan pemeriksaan beberapa orang saksi di sekitar rumah kontrakan korban, pelaku langsung kami tangkap,"' ujar Kapolres.

Hasil dari pemeriksaan , kata Kapolres, pelaku memangku  kerap memukul korban karena kesal setiap pulang kerja dan digendong selalu nangis. "Ini adalah bentuk dari kekesalan tersangka yang capek pulang kerja, melihat anaknya yang digendong selalu nangis," ungkap Kapolres.

Selain itu kata Kapolres, kekesalan tersebut juga bisa dipicu oleh tekanan ekonomi. “Kalau melihat ekonomi keluarga pelakj juga termasuk emonomi menengah ke bawah, sehinggga bila terjadi sesuatu gampang tersulut oleh emosi," ucap Kapolres.

Pelaku pun mengakui, setiap mendengar suara tangisan korban pada saat pulang kerja selalu emosi dan memukulnya dengan tangan. Bahkan ia  pernah menengkurapkan korban dan memukuli bagian punggungnya. 

"Setiap saya capek pulang kerja, anak saya selalu nangis," tutur tersangka yang bekerja serabutan itu. (man)

Post a Comment

0 Comments