Pemerintah Abai, KNPI Pecah Kongres Di 2 Tempat Berbeda

Baca Juga

Sejumlah anggota KNPI unjuk rasa di 
Aceh agar Pemda tidak berikan bantuan.
(Foto: Istimewea)


NET - Saat persatuan bangsa sedang digalakkan, tapi pemuda yang diharapkan sebagai ujung tombak pemersatu malah terpecah. Hal inilah yang kemudian menginisasi Kumpulan Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Nasional yang menamakan dirinya Forum Pimpinan OKP Nasional, menggelar rapat pimpinan, di Jalan Taman Amir Hamzah No. 2, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).

Pimpinan OKP Nasional yang juga berhimpun di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), merasa perihatin dengan akan digelarnya Kongres KNPI Ke-XV di dua tempat berbeda pada 2018.

"Jangan sampai, kita sebagai penghianat bangsa yang mengingkari hasil kongres pemuda II tahun 1928, dan deklarasi pemuda tahun 1973 yang menginginkan persatuan dalam menuju Indonesia yang dicita-citakan," ujar Oktasari Sabil, juru bicara dari Forum Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP).

Oktasari Sabil yang juga Ketua Umum Gerakan Nurani Rakyat (GEMURA) mengatakan terjadinya dua kongres KNPI karena tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk menyatukan wadah keberhimpunan pemuda Indonesia yang sudah mempunyai problematika selama 3 tahun terakhir. 

"Jangan sampai pada akhir periode pemerintahan yang sudah berjalan baik, khususnya yang menangani kepemudaan mendapatkan sebutan 'Negara Gagal Pemuda Pecah'. Hal ini sangat kami khawatirkan. Oleh sebab itu, kami dukung Presiden untuk langsung turun tangan jika sudah seperti ini," ujarnya.

Menurut Okta, kegagalan menyatukan pemuda merupakan kegagalan merawat persatuan bangsa, karena masyarakat Indonesia dikatakan satu bangsa indonesia melalui forum pemuda tahun 1928. Jelas apa yang menjadi pesan dari sumpah pemuda tentang persatuan dan kesatuan, mumpung masih ada waktu sebelum kedua kongres ini berjalan untuk pemerintah melalui Menpora langsung mengambil sikap tegas dalam menyatukan pemuda dalam satu kongres KNPI Ke- XV.

Para pimpinan OKP Nasional melalui Oktasari menegaskan jika tantangan ke depan akan lebih berat, sehingga persatuan dan kesatuan dibutuhkan khsusnya oleh pemuda Indonesia.

"Bonus demografi dan revolusi industri 4.0 menjadi tantangan yang tidak mudah untuk di hadapi ke depan. Apalagi pada 2019 jumlah pemuda bisa mencapai lebih dari 60 persen dari seluruh masyarakat yang ada. Jika pemuda hari ini terpecah belah, kami khawatir kita tidak bisa menghadapi tantangan ini dan menjadi catatan buruk bagi sejarah Indonesia," ungkap Okta. (dade)

Post a Comment

0 Comments