Peluang Besar Produksi Jagung Banten, Digerakan Tiga Serangkai

Baca Juga

Agus M. Tauhid S, Ny. Linda, dan Maxdeyul Sola
di lokasi tanam jagung di Desa Bulakan,
Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak.
(Foto: Syafril Elain/TangerangNet.Com)

NET – Kebijakan Gubernur Banten H. Wahidin Halim agar Provinsi Banten menjadi lumbung jagung dan kedelai, mulai bergerak massif. Ada tiga unsur penggerak pertanian dalam bidang tanaman jagung dapat tumbuh dan subur di Provinsi Banten.

Mereka itu adalah Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional (DJN) Maxdeyul Sola, pengusaha yang dimotori oleh Ny. Linda, dan Dinas Pertanian Provinsi Banten yang dikepalai oleh H. Agus Tauhid S. Ketiganya bahu membahu agar produksi jagung di Banten dapat terwujud dan diperhitungkan untuk skala nasional.

“Tanah terhampar luas yang cocok untuk tanam jagung, petani banyak, pengusaha pun sudah ada,” ujar Maxdeyul Sola kepada wartawan di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Selasa (6/11/208).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DJN tersebut mengatakan peluang Banten untuk menghasilkan jagung terbuka lebar. Hasil tanam jagung  ada tempat penampungan penjualannya.  Hal ini bisa terjadi karena pabrik pakan berada di Provinsi Banten dengan kapasitas kebutuhan 18 juta ton jagung.

“Dari jumlah tersebut, pabrik pakan tersebut 60 persen berada di Banten atau sekitar 12 ton. Nah, peluang Banten harus dapat merebut penjualan jagung karena kita diuntungkan dengan jarak dekat dan ongkos angkut lebih murah. Tentu dengan kualitas jagung yang sama daerah lain,” tutur Sola.

Sola menyebutkan bila jagung dari Jawa Timur atau Gorontalo, Sulawesi Utara, didatangkan ke pabrik pakan yang ada di Banten tentu cukup tinggi. Nah, peluang produksi jagung Banten tentu dapat dijual lebih murah bila dari ongkos angkut.

“Kalau dari Gorontalo ongkos angkut Rp 500 per kilo, jagung dari Banten bisa jadi cukup hanya Rp 100. Ini artinya ada selisih Rp 400 per kilogram. Jadi peluang produksi jagung sangat besar. Ayolah kita produksi jangung dan jangan ragu lagi,” ungkap Sola.

Ny. Linda, dari unsur pengusaha menyebutkan agar petani mau menanam jagung harus ada yang beli. “Saya selalu sosialisasikan bila petani menanam jagung dengan kualitas baik tentu akan dibeli. Petani bersemangat menanam jagung karena ada kepastian untuk dibeli,” tutur Ny. Linda.

Sejumlah pengusaha baik secara perorangan maupun dengan badan usaha sudah terjun ke Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak. Selain Ny. Linda ada pula Ny. Ninuk, pengusaha asal Bandung, Jawa Barat, yang sudah merambah usaha jagung di Sulawesi.

Oleh karena itu, perlu pembinaan dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak dan Dinas Pertanian Provinsi Banten. Pembinaan terhadap petani sudah dilakukan baik penyuluhan dari Lebak dan Provinsi Banten. “Dalam memberikan penyuluhan kepada petani diperlukan alat pendukung,” ujar Kepala Dinas Provinsi Banten H. Agus M. Tauhid S.

Agus menyebutkan dalam waktu dekat ini dan sebagian sudah mulai ditanam jagung yang menapai 90 hektare. “Insya Allah akan ada produksi jagung di Banten sebanyak 1 juta ton,” ucap Agus. 

Dinas melalui kebijakan Gubernur Banten, kata Agus, telah menyediakan traktor untuk membajak tanah roda 4 sebanyak 2 unit, sarana angkut tiga roda 10 unit, vertical dryer jagung kapasitas 6 ton 5 unit, lantai jemur 5 unit, uji  jagung pakan 5 unit, corn sheler 50 unit, corn dombine harvester sedang 20 unit.

“Dinas berupaya memenuhi kebutuhan petani agar dapat menghasilkan jagung dengan kualitas baik,” ucap Agus. (ril)

Post a Comment

0 Comments