Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Komunitas Punk Dan 20 Anak Jalanan Dilatih Berkarya Fotografi

Para peserta latihan fotografi terlihat 
serius memperhatikan penjelasan instruktur. 
(Foto: Istimewa)  




NET - Sedikitnya 20 anggota komunitas punk dan anak jalanan dilatih untuk membuat karya fotografi dengan pendekatan jurnalistik. Para peserta diajak membuat foto sebagai bentuk pengungkapan keresahan dan sarana penyampaian kritik terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.

Kegiatan tersebut melibatkan Tim Peneliti Photovoice dari Universitas Islam Syekh-Yusuf (Unis) Tangerang menggelar kegiatan Workshop dan Diskusi Peningkatan Literasi Digital Melalui Photovoice bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI), dibantu KMF Kalacitra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Sabtu-Ahad (1 dan 2/8/2026).

Pembicara dari PFI Thoudy Badai mengungkapkan setiap orang memiliki potensi untuk menyampaikan berita atau informasi kepada orang lain dalam bentuk foto.

Badai menyebutkan foto memiliki fungsi untuk membentuk citra sekaligus menyampaikan kritik. “Setiap orang memiliki imajinasi visual yang dapat digunakan untuk menyampaikan keresahan dengan baik. Asalkan karya foto tersebut menggunakan elemen visual yang kuat dan lengkap,” tuturnya.

Para peserta, kata Badai,  mendapat pengetahuan dasar mengenai elemen teknis fotografi untuk membuat gambar yang dapat dimengerti oleh orang lain. Sebuah foto juga dapat memberikan bukti sebuah peristiwa dan mengubah kebijakan.

“Para peserta sangat antusias dan serius mengikuti kegiatan ini. Semoga setelah ini mereka dapat berpartisipasi dalam melakukan kontrol sosial juga,” ujar fotografer Republika tersebut.

Ketua Tim Peneliti Photovoice Unis Tangerang Ade Irfan Abdurahman mengatakan tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah membangun kesadaran dari komunitas punk dan anak jalanan mengenai realitas di sekitar mereka. Melalui kegiatan ini, komunitas tersebut juga dapat menyampaikan suara yang selama ini terabaikan oleh pihak-pihak terkait.

“Dalam photovoice, kami mengajak partisipan untuk membuat foto dan menyuarakan keresahan. Hasil akhirnya adalah perubahan individu dan perubahan sosial yang didorong melalui dialog serta advokasi sosial,” ungkap Ade.

Selain melatih keterampilan fotografi, para peserta diajak untuk melakukan hunting foto bersama mahasiswa dari KMF Kalacitra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Unis Tangerang. Mereka mengambil gambar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari komunitas punk dan anak jalanan. Foto-foto tersebut akan dikurasi dan diunggah melalui media sosial, serta dipamerkan dalam waktu dekat.

Pengasuh Pondok Tasawuf Underground Halim Ambiya menyambut baik kegiatan pelatihan tersebut. Keterampilan yang didapat oleh peserta diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan membuat mereka semakin berdaya.

“Biasanya, kami yang menjadi objek penelitian. Kali ini, kami menjadi partisipan dan terlibat dalam pembuatan foto. Jadi ini terobosan yang sangat bagus dan memang kami butuhkan,” jelasnya. (*/yos/pur)


Post a Comment

0 Comments