ads


Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Baca Juga

Memed Chumaedi: sangat massif melakukan road show. 
(Foto: Dokumen Tangerangnet.com)   
Oleh Memed Chumaedi

DENGAN segala dinamikanya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di Kota Tangerang perlu dimaklumi, dinamika politik berjalan ketika supporting ada dan demandnya muncul.

Supporting atau dorongan itu ada ketika publik dan partai politik sebangun dalam persepsi untuk mendorong kandidat yang dianggap pantas untuk memimpin Kota Tangerang.

Demand atau tuntutan itu muncul pada saat kondisi faktual Kota Tangerang membutuhkan figur yang layak dibanggakan oleh warga masyarakat Kota Tangerang.

Dalam teori sistem politik, supporting dan demand masuk dalam INPUT yang diperlukan adalah prosesnya dan mengeluarkan OUTPUT.

Supporting dan demand membutuhkan proses, dalam politik maka ada proses politik, dengan pelbagai cara untuk menjalankan proses politik, dimulai dari sosialisasi, lobby kunjungan plus silaturahmi.

Kondisi “proses” inilah yang dibutuhkan hari ini di Kota Tangerang. Kandidat berjibaku melakukan komunikasi ke partai politik untuk mencari dukungan partai politik, baik Arief Rachdiono Wismansyah yang kini menjabat sebagai Walikota Tangerang, maupun Sachrudin yang juga Wakil Walikota Tangerang  hingga hari ini belum mendapatkan dukungan penuh. Arief merasa pede dengan hasil survei terkait popularitas dan elektabilitasnya dan Sachrudin merasa pede juga bahwa dialah yang sudah mendapatkan dukungan resmi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

Lawan Tak Sebanding

Landscape Pilkada di Kota Tangerang mudah ditebak, dan tebak-tebakan sudah pasti benar. Jika dalam survei kita sebar angket 10, dengan pertanyaan siapakah yg memenangkan kontestasi Pilkada Kota Tangerang? Sangat besar kemungkinan jawaban dari 10 responden tersebut 8 orang menjawab; Arieflah yang akan memenangkan kontestasi tersebut.

Penulis tidak perlu menyebut detil terkait indikator kemenangan tersebut, yang pasti bahwa kekuatan tak sebanding itu sangat kentara betul di lapangan. Arief sangat massif melakukan road show untuk mengenalkan keberhasilannya memimpin, berbeda dengan Sachrudin yang cenderung pasif hanya cenderung menunggu dewi fortuna.

Banyak faktor yang merundung pasifnya Sachrudin, syahwat politik tak menentulah yang menjadi takdirnya dalam politik. Dan bisa terjadi pada kondisi riil Sachrudin yang juga sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Kota Tangerang  tergerus oleh arus ketidakpercayaan partai terhadapnya yang akhirnya tersalip oleh kader Golkar lainnya untuk menggantikan posisinya sebagai  kandidat. Dan Sachrudin harus belajar banyak terkait fenomena politik Golkar di Jawa Barat.

Lawan tak sebandinglah yang menyimpulkan tulisan ringan ini untuk memantik syahwat politik Golkar dengan guyonan “nafsu besar, tindakan kurang” dan Sachrudin harus belajar menjadi muda dengan keajegan meraih mimpi kekuasaan dengan cara yang apik. ***

Penulis adalah:
Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), 
Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).


Tangerang NET

Berita Tangerang Untuk Dunia
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Masukkan Komentar

Ad Inside Post


Top