ads


Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Baca Juga

Dirjen Pertanian Bambang, Gubernur Banten Wahidin Halim,
dan Bupati Lebak Iti Jayabaya tunjukan jagung yang dipanen.
(Foto: Syafril Elain, Tangerangnet.com)  
NET  – Gubernur Banten H. Wahidin Halim mengatakan pada  2018 Provinsi Banten akan menyediakan lahan seluas 128.000 hektar untuk ditanami jagung dan kedelai. Pada tahun ini di Kabupaten Lebak dimulai menanam 30.000 hektar jagung. Kesejahteraan petani harus ditingkatkan dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif.

“Hari ini, kita panen jagung tanda dimulai pemanfaatan lahan kosong atau tidur. Jangan biarkan lahan kosong dan jadikan lahan kosong menjadi lahan produktif,” ujar Gubernur Banten pada saat penen raya di Desa Bulakan, Kecamtan Gunung, Kencana, Kabupaten Lebak, Banten, Rabu (26/7/2017).

Pada acara panen jagung tersebut, hadir Direktur Jenderal (Dirjen) Pertanian, Kementerian Pertanian Bambang, Bupati Lebak Iti Jayabaya, para anggota FKD yakni unsur Polres, Kodim, dan Kejaksaan. Hadir pula dari Bulog Divre Banten dan DKI Jakarta.

“Saya mendukung sepenuhnya untuk gerakan pertanian jagung dan kedelai di Lebak ini atau seluruh Banten. Bila diperlukan deregulasi atau peraturan untuk mendukung kegiatan ini, segera akan dibuatkan. Kita harus berjuang untuk kesejateraan petani atau rakyat. Jangan pernah ragu untuk meningkatkan kesejahtraan rakyat,” ucap Wahidin Halim yang akrab disapa WH itu.

Kepada Kementerian Pertanian, Gubernur Banten minta agar memberikan solusi terhadap hasil panen jagung yang akan dipasarkan. “Jangan setelah panen jagung, petani kebingungan mau ke mana dipasarkan dan harus sudah ada tempat penampungannya,” tutur Wahidin.

Sementara itu, Bupati Lebak Iti Jayabaya mengataka panen jagung hari ini adalah buah hasil kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Lebak dengan Kementerian Pertanian yang meminjam lahan Perhutani. Perhutani  memiliki lahan seluas 700 hektar dan baru dimanfaatkan untuk ditanam jagung seluas 300 hektar.

Setelah dilaksanakan penanaman jagung pada Maret 2017 lalu, kata Iti, timbul masalah yakni petani masih kurang alat untuk pemipil atau untuk merontokan jagung dari tunggulnya. Selain itu, petani masih perlu dibantu mesin pengering agar kadar air yang terkandaung dalam jagung lebih rendah sehingga mutu menjadi lebih baik.

“Saya berharap dari Kementerian mau memberikan bantuan terhadap alat yang masih kurang itu yakni pemipil dan alat pengering. Pokoknya, petani sudah bekerja secara maksimal. Kalau pertanian jagung dan kedelai ini berhasil akan berkurang minat warga untuk bekerja ke luar kota  atau ke luar negeri menjadi  TKI dan TKW (Tenaga Kerja Indonesia dan Wanita-red),” ujar Bupati yang mendapat tepukan dari warga yang hadir di lokasi.

Dirjen Pertanian Bambang mengatakan apa yang diharapkan oleh Bupati Lebak akan menjadi pertimbangan. “Saya akan membawa masalah ini kepada Bapak Menteri Pertanian agar dibahas di dalam APBN-P (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan-red). Syukur-syukur bisa masuk ke dalam APBB-P sehingga pada tahun ini akan diberikan apa yang menjadi harapan petani,” ucap Bambang.

Bambang menjelaskan pada tahun 2018, adalah tahun dilaksanakan pembenihan. Oleh karena itu, bantuan benih baik jagung maupun kedelai akan diberikan kepada Kabupaten Lebak atauk Provinsi Banten. “Silakan kepada Bapak Gubernur dan Ibu Bupati untuk mempersiapkan apa saja diperlukan untuk pembenihan. Insya Allah, Kementerian akan menyalurkan pembenihan pada tahun 2018,” ujar Bambang. (ril)  

Tangerang NET

Berita Tangerang Untuk Dunia
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Masukkan Komentar

Ad Inside Post


Top