ads


PPID Provinsi Banten

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Baca Juga

Memed Chumaedi: WH tidak tinggal diam.
(Foto: dokumentasi pribadi)  
Oleh: Memed Chumaedi    

SAYA masih teringat pendapat Robert Alan Dahl - seorang pemikir politik, dia menyatakan demokrasi sejatinya membutuhkan dua prasyarat; pertama seberapa tinggi tingkat kontestasi, kompetisi atau oposisi. Dan kedua, seberapa banyak warga turut berpartisipasi. Dua prasyarat ini memperoleh bentuknya jika dilaksanakan dalam sebuah pemilihan umum/pemilihan kepala daerah (Pemilu/Pemilukada). Pemilu/Pemilukada dinilai demokratis jika dua prasyarat ini terpenuhi oleh unsur kontestasi dan partisipasi.
Pernyataan Robert Alan Dahl di atas itu menjadi catatan saya dalam menkonstruksi politik di Kota Tangerang, ada beberpa catatan.

Satu,  Kota Tangerang menjadi kota yang penuh prestasi sulit dibantah bahwa andilnya peran Wahidin Halim yang sering disebut WH, selama dua priode menjadi kepala daerah dalam membangun fondasi "Akhlakul Karimah" dalam pemerintahannya.

Kedua,  keberhasilan Arief Rachadiono Wismansyah yang kini menjadi Walikota Tangerang dengan pelbagai prestasi inipun tak terbantahkan juga. Bahwa Arief yang dulunya merupakan wakil walikota pada priode WH  dapat mencapture kepemimpinan WH yang pada akhirnya melanjutkan fondasi kepemimpinan WH.

Ketiga, kualitas daya kepemimpinan Arief pun tak bisa dielakkan bahwa ke depannya (Pilkada) Arief punya potensi kembali dapat terpilih dan sulit tertandingi oleh lawan-lawan politik yang ingin bertarung di Pilkada tahun 2018.

Karena itu, Pemilukada Kota Tangerang tahun 2018 kemungkinan besar hanya diikuti oleh minimnya para bakal calon walikota yg akan siap menjadi rivalnya Arief. Dalam teori demokrasi di atas saya korelasikannya bahwa dalam Pemilukada sekuat Arief apapun juga untuk menciptakan ruang demokrasi dibutuhkan semangat kontestasi. Artinya, Arief mesti harus ada lawan tangguh yang siap menjadi lawan petahana ke depannya.

Munculnya beberapa kandidat selama ini masih sebatas di aras media saja tapi ini pun harus dijawab oleh kebutuhan rival untuk menandingi Arief. Sama-sama yang sudah ada perlu menjadi perhitungan Arief seperti Sachrudin, seorang Wakil Walikota Tangerang dan juga Ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah-red) Partai Golkar Kota Tangerang yang hasil Rakerda (Rapat Kerja Derah-red) kemarin seluruh kader Golkar menginginkan agar sachrudin maju untuk menandingi Arief (petahana versus petahana).

Nah, yang menarik justru adalah munculnya nama tokoh muda  yang lagi ramai-ramai digadang-gadang yaitu Fadhlin Akbar (Mohammad Fadhlin Akbar-red), menarik untuk dianalisa. Ada beberapa analisa mengenai sosok anak muda ini.

Pertama, Fadhlin adalah anak muda yang usianya lebih muda dari Arief dan juga sebagai anak dari mantan walikota dan juga anak dari gubernur terpilih.

Kedua, dukungan politik terhadap WH pada Pilgub (Pemilihan Gubernur-red) kemarin itu dapat menjadi salah satu catatan bahwa ada kekuatan besar yang akan kembali mendukung keluarga WH di Pilkada Kota Tangerang ke depannya. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk merebut tahta kekuasaan Kota Tangerang untuk menjaga kondusifitas kekuasaan pemerintahan.

Ketiga; untuk menjaga kesinambungan pemerintahan dengan kabupaten dan kota, maka Fadhlin sudah saatnya untuk menjaga dan merawat daerah ini dan siap berpartisipasi dalam kontestasi dalam mengamankan kebijakan  gubernur.

Keempat; WH sebagai gubernur sejatinya menginkan sinkronisasi kepala daerah (gubernur) dengan kepala daerah lainnya ( bupati dan walikota) untuk mewujudkan visi misi Banten ke depannya.

Kelima; jika benar terjadi Arief dan Sachrudin pecah kongsi maka akan besar kemungkinan Fadhlin menjadi kuda hitam untuk menjadi penantang keduanya dan bisa adu jitu strategi untuk memenangkan Pilkada di Kota Tangerang.

Dalam analisa tersebut menjawab kebutuhan bahwa dalam demokrasi dibutuhkan rival dalam kontestasi, dan rival keduanya sesungguhnya adalah Fadlin Akbar ini.

Catatan ini penting karena bagaimanapun WH tidak tinggal diam jika pilihannya adalah Fadhlin, dan dapat dipastikan jika terwujud maka WH akan all out untuk menjadikan Fadhlin sebagai penantang sejati keduanya.

Dari itu semuanya maka kiranya sosok Fadhlin yang mewakili generasi Z ini akan mendapatkan sokongan kelompok milenial dalam partisipasinya di Pemilukada tahun 2018. 

Wallahu a'lam bisshowab. ***

Penulis adalah:
Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), 
Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Tangerang NET

Berita Tangerang Untuk Dunia
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Masukkan Komentar

Ad Inside Post


Top