Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Anak Berkebutuhan Khusus Saat UN 2016, Ditemui Menteri

Sejumlah siswa saat jam istirahat.
(Foto: Dade, TangerangNRT.Com)    
NET - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dalam kunjungan kerja di Surabaya mengunjungi dua sekolah penyelenggara ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Namun, salah satu sekolah yang dikunjungi adalah SMAN 8 Surabaya, yang merupakan sekolah inklusi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan SMAN 8 Surabaya memiliki lima orang peserta didik berkebutuhan khusus, yang salah satunya menjadi peserta UN tahun 2015.

Mendikbud, dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini sempat berbincang-bincang santai dengan Alvian Andhika, siswa berkebutuhan khusus tersebut.

Sementara itu, Alvian yang menerima pendidikan inklusif di SMAN 8 Surabaya itu menerima kunjungan Mendikbud pada  waktu istirahat menjelang ujian mata pelajaran kedua. Saat berbincang-bincang itulah Mendikbud memberikan kartu namanya kepada Alvian.

Anies menjelaskan ayo coba baca kartu nama ini, dan sebutkan nomer teleponnya. Namun, kartu nama yang diberikan  itu memang menggunakan huruf braile. Alvian pun meraba kartu nama tersebut, lalu membaca alamat serta menyebutkan nomor telepon yang tertera dalam huruf braible di kartu itu.

“Dalam mengerjakaan soal UN pun, Alvian yang merupakan siswa jurusan IPS itu mengerjakan naskah soal yang dicetak dengan huruf braible," ujar Anies, Senin (4/4/2016),  di Jakarta.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 8 Surabaya, Ligawati menjelaskan sekolah yang dipimpinannya itu resmi menjadi sekolah inklusi sejak pada 2013. Hingga saat ini, SMAN 8 Surabaya sudah memiliki lima peserta didik berkebutuhan khusus, yang semuanya dalam kondisi tunanetra.

"Meskipun tunanetra, peserta didiknya itu dilihat memiliki kemampuan sosialisasi yang cukup baik, terutama Alvian. Hanya ada satu orang yang memang agak pendiam. Dalam kegiatan belajar mengajar pun tidak ada perbedaan untuk anak berkebutuhan khusus maupun anak lainnya," ungkap Ligawati.

Menurut Ligawati,  hanya anak berkebutuhan khusus memiliki pendamping yang memudahkan komunikasi antara dirinya dengan guru yang mengajar.  Sebagaian besar guru-guru SMAN 8 Surabaya juga telah mendapatkan pelatihan mengenai pendidkan inklusif.

Berdasarkan Permendikbud Nomor z0 Tahun 2009, pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikuti-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tinggalnya.

Sementara itu, penyelenggara pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan induvidu peserta didik. "Sejak 2011, Kemendikbud bekerja sama dengan Helen Keller international (HKI) juga membuat terobosan berupaya pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh nasional pendidikan inklusif dalam bentuk "Inclusive Education Award"," katanya.

Setiap tahun ada enam tokoh pendidikan inklusif yang diberikan penghargaan ini. Namun, hingga kini, sudah 48 orang tokoh nasional pendidikan inklusif yang menerima penghargaan tersebut. Kota Surabaya pernah menerima penghargaan tersebut pada tahun 2014 atas perhatiannya terhadap pendidikan inklusif. Selain di SMAN8 Surabaya, Pendidikan inklusif juga diterapkan di SMAN 10 Surabaya, dan SMKN 8 Surabaya. (dade)

Post a Comment

0 Comments