ads


PPID Provinsi Banten

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Baca Juga

Ilustrasi foging yang dilakukan warga.
(Foto: Istimewa)   
NET - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang diminta lebih serius untuk menangani kasus wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)  di wilayahnya. Pasalnya meskipun daerah itu sudah meningkatkan status  DBD sebagai Kejadian Luar biasa (KLB) , namun belum melakukan pengasapan (foging) secara merata.

"Ya kalau status  DBD ini sudah KLB, seharusnya Pemkab Tangerang  mengambil tindakan cepat  untuk mengatasi penyakit tersebut," ujar Ade Yunus, Koordinator Jaringan Nurani Rakyat (Janur) kepada wartawan, Rabu (10/2/2016).

Jangan sampai, katanya, menunggu ada yang sakit terlebih dahulu, baru bertindak. Mengingat penyebaran wabah penyakit mematikan  itu tidak bisa ditebak.

"Sekarang ini masyarakat butuh tindakan  kongkret, yaitu diberlakukanya foging di seluruh wilayah," tutur Ade Yunus.

Kalau Pemda mengatakan  foging itu  tidak perlu dilakukan dengan  alasan karena  foging hanya membunuh nyamuk Aedes Agypti yang dewasa dan bukan jentik, kata Ade Yunus, sesuatu hal yang menggelikan.

Sebab, tambah dia, jentik tidak akan ada bila induknya dibasmi. "Foging adalah hal yang utama dalam membasmi nyamuk Aedes Agypty," tandas Ade Yunus.

Dan bersamaan dengan fohing itu, tambah dia, Pemkab Tangerang melalui aparat di bawahnya seperti lurah, RW dan RT  bisa melakukan sosialisasi agar masyarakat melaksanakan tindakan 3M (membersihkan, menguras, dan mengubur barang-barang tidak terpakai yang dapat menampung air hujan).

Selain itu, kata Ade Yunus, Pemkab Tangerang melalui Dinas Kesehatannya (Dinkes)  harus mengambil tidakan cepat atau pemantauan terhadap  pasien yang  menderita penyakit tersebut, baik  yang dirawat di Puskesmas  maupun rumah sakit lainnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, hingga kini Pemkab Tangerang belum melakukan foging di sejumlag daerahnya. Di antaranya di Kampung Sukabhakti, Kelurahan Sukabhakti, Kecamatan Curut. Padahal di RT 02/012 di kampung itu sudah empat orang yang diduga menderita DBD.

Begitupula di Kampung Ranca Gong, Kelurahan Rancakgong, Kecamatan Legok. Padahal berdasarkan catatan  Dinkes Kabupaten Tangerang, Kecamatan Legok merupakan salah satu kecamatan yang rawan DBD.

"Masak harus menunggu ada yang sakit dulu baru difoging," ujar Sugiyadi warga setempat.

Sebelumnya,  Bupati Tangerang Achmad Zaki Iskandar beserta  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Naniek Isnaeni dalam keterangan persnya  mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan beberapa tindakan pencegahan untuk meminimalisir merebaknya wabah DBD  di wilayah tersebut.

Seperti, katanya  pembentukan kader juru pantau jentik (jumantik), foging, dan lainnya. Sebab, kata dia, dari 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang, 16 di antaranya  terdapat kasus DBDM. Dan dari  16,  lima  kecamatan yang terparah, seperti Cikupa, Panongan, Pasar Kemis, Sindang Jaya, dan Balaraja.

Karenanya, kata Bupati Tangerang, pihaknya meminta kepada seluruh masyarakat agar menjaga  kebersihan di lingkungannya  masing-masing. Mengingat foging itu  bukan solusi terbaik untuk mengatasi DBD.

"Banyak juga masyarakat yang pengen difoging. Tapi itu  bukan solusi utama dalam pembasmi DBD," ujar Zaki seraya menambahkan  foging tersebut, hanyalah untuk membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Naniek Isnaeni menjelaskan ke-15 korban meninggal dunia itu karena  mengalani keterlambatan  penanganan medis. Sedangkan total jumlah masyarakat yang terserang DBD hingga Januari  tercatat sebanyak  359 kasus. Dan Februari 76 kasus.

"Tahun ini jumlah penderita DBD mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya,  karena tahun 2016 memasuki siklus 3 tahunan," ungkap Kadinkes. (man)


Tangerang NET

Berita Tangerang Untuk Dunia
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Masukkan Komentar

Ad Inside Post


Top